tentang, ternyata, dan cinta

anak dan ibu itu diam saja di depan tangga jalan yang akan kami naiki. jujur, awalnya terbersit rasa kesal. mungkin karena merasa jalan terhalangi. Mungkin karena ada pikiran buruk tentang egoisme (orang lain).

antrian naik tangga jalan mulai memanjang. “boleh jalan, Bu?” akhirnya saya sapa mereka.

sang Ibu bergumam bahwa anaknya takut. seketika pikiran dan badan saya terasa berbeda. jadi lebih tenang. hilang pikiran buruk itu.

teman saya mengajak anak dan ibu untuk naik tangga bareng. mereka dengan sopan menolak. saya tetap berdiri di belakang mereka. menunggu. tak terpikir untuk melakukan hal lain. saya sudah pada tempat saya.

si anak pada waktunya mau bergerak. kami menapak bersama. saya tetap dua langkah di belakang mereka.

menjelang ujung tangga, anak mulai bersiap untuk kembali melangkah. ibu menuruti gerakan anak. sepanjang perjalanan, Ibu tak henti menggenggam tangan si anak. genggaman kokoh sekaligus lembut.

penuh cinta. cintalah yang membuat Ibu tergerak indah. utuh tanpa ingin melakukan hal lain. cinta pula yang membuat anak aman, percaya, dan tetap melangkah, walau ketakutan melanda.

lepas dari anak tangga, Sang Ibu menoleh, memandang mata saya barang sebentar. tanpa cakap, tetapi banyak yang tersampaikan. saya tak bisa tidak melepas senyum. ikut senang, Bu dan adik.

sepanjang minggu, saya ingin menulis tentang gambar dan kutipan di atas — serta penyadaran yang muncul bersamanya. namun, belum tahu ingin menulis apa — yang rela saya bagi, tepatnya.

peristiwa kemarin memberikan jalan untuk itu. sebuah kisah tentang saling paham dan saling menemani. tentang keterhubungan antar jiwa manusia. tentang kebersamaan yang begitu memerdekakan. tentang rasa aman dan nyaman yang melembutkan dan membuat bertumbuh. tentang berada pada tempat kita—masing-masing tetapi berdampingan. tentang cinta yang menggerakkan dan menetapkan.

tentang kesadaran betapa berharganya mereka yang dihadiahkan Semesta kepada kita sebagai teman seperjalanan – companionship. tentang senyum dan rasa syukur. sebuah tanda paham tanpa kata.

tentang hal-hal indah yang saya saksikan. yang membantu saya menyadari (si)apa saja yang ternyata penting bagi saya. yang ternyata cerminan nilai yang sudah ada dalam diri saya. yang ternyata adalah saya.

tentang, tentang, tentang. ternyata. cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s