menahan (diri)

puasa, atau shaum dalam bahasa arab, adalah perkara menahan diri (pasa, sanskrit) [dari segala sesuatu yang lewah] dalam upaya mendekatkan diri ke sang maha kuasa (upawasa, sanskrit).

pada tingkat awal, hal tersebut adalah seperti yang selama ini kita pahami: menahan lapar, dahaga, dan birahi. fisik sekali.

menurut ibn ‘arabi, rasa lapar adalah satu dari empat pilar transformasi spiritual. rasa penuh, ujarnya, menjurus ke kelewahan dalam berbagai hal, termasuk tindak tanduk.

rasa lapar dapat membantu keterjagaan. secara khusus, ibn ‘arabi mengacu kepada keterjagaan akan kehadiran tuhan.

semakin tinggi, pemaknaan puasa menjadi semakin halus dan bersifat batiniah. misalnya, menahan perilaku, perkataan, dan pikiran yang kurang selaras dengan kesejatian manusia.

tetap intinya menahan diri dari (rasa lapar atau nafsu untuk mengejar hingga) lewah, walau pada tataran berbeda.

pada tingkat tertinggi, puasa adalah latihan menahan diri dari mengingat atau berfokus pada selain tuhan. zikrullah tanpa putus. setiap gerak pikiran, hati, dan badan lillaahi ta’ala.

namanya juga latihan. apabila alpa, saat ego mulai menegakkan kepala, puasa mengajak kita untuk kembali merendahkan hati dan bersujud, kembali mengingat-Nya.

selamat berpuasa. semoga, sesuai yang diitikadkan dalam alquran, puasa dapat mengantar manusia beriman ke tingkat takwa: menyadari kehadiran tuhan dalam setiap waktu, setiap kondisi. dengan nama tuhan, maha pengasih, maha penyayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s