berbagi kebaikan

dari jauh, awalnya, hanya terlihat gerobak sayur tertatih meniti jalan menanjak. tengah pagi yang lumayan terik. rupanya ada perempuan separuh baya di balik tumpukan sayur tersebut.

seorang mas-mas berseragam dari dalam toko sebelah tetiba muncul. ia sigap berlari mendekati ibu.

Continue reading

niat

maret 2021 mungkin bulan tersibukku selama satu-dua tahun terakhir. alhamdulillah. apalagi satu setengah minggu terakhir ini. entah kapan terakhir kali aku begadang bermalam-malam.

tadinya, aku pikir aku bakal tumbang. entah kenapa, alhamdulillah, tidak. tentu butuh sedikit tidur pengganti. tidak lama. setelah itu, hari bergulir seperti biasa. sampai takjub sendiri.

Continue reading

tradisi

KENAPA TRADISI HARUS DIPERTAHANKAN?

nasi goreng hari minggu adalah tradisi keluarga yang langgeng. tetap menghangatkan hati bahkan hanya dengan mengucapkannya.

pertanyaan itu dicetuskan almarhum bapak tiga dekade lalu menjelang pernikahan kakak. kami tengah membincangkan acara pernikahan; bapak ingin serba praktis, sementara saya berkeras ada beberapa hal yang tetap perlu dipertahankan.

“kenapa?” tanyanya.
“karena itu tradisi,” jawabku lugas.
“kenapa tradisi harus dipertahankan?” bapak bertanya lagi.

aku terdiam. tak tahu harus berkata apa.

begitulah interaksi kami. bapak selalu mendorong saya untuk berpikir kritis dan panjang. menyadari setiap langkah yang saya ambil, beserta konsekuensinya—untuk saya dan sekitar. memastikan akar perbuatan saya benar dari sesuatu yang saya pegang teguh dalam diri, bukan membebek asal-asalan “karena memang begitu (biasanya)”.

pertanyaan itu kembali terngiang pagi ini. orang rumah bertanya apa pagi ini kami akan membuat nasi goreng. seperti yang pernah saya ceritakan, di rumah kami ada tradisi nasi goreng hari minggu.

hanya saja, kemarin masih ada banyak makanan dari hari sebelumnya. kami memutuskan untuk tidak perlu ada nasi goreng hari minggu khusus untuk kemarin.

namun, mungkin tradisi ini menuntut dipertahankan. terlontarlah tawaran membuat nasi goreng hari minggu pada hari senin pagi. saya hanya bisa tersenyum dan menangguk.

sambil menyantap nasgor, terngiang lagi pertanyaan bapak: kenapa tradisi harus dipertahankan?

hingga kini pun saya masih tidak memiliki jawaban. tanggapan “karena ingin menghargai tradisi” terasa kering.

mungkin tradisi telah saya jadikan pagar bagi zona nyaman saya. mungkin tradisi merupakan pengingat atas nilai luhur, atau sesuatu yang kami dekap dekat dengan hati—seperti hangatnya rasa saat ibu menyiapkan nasi goreng. mungkin tradisi berlaku sebagai jangkar yang mengeratkan saya dengan apa yang saya anggap akar saya. jangan-jangan saya akan gamang bila tak menjalankan tradisi ini, semacam kehilangan identitas yang saya pikir itu saya selamanya?

semua mungkin, tanpa ada jawaban pasti. alih-alih, saya punya punya pertanyaan baru: apa yang sebenarnya sedang saya coba pertahankan?

bagaimana denganmu? apa tradisi yang kaupertahankan dan kenapa?

satu-satu

ini adalah pak tatang. orang baik yang membantu keluarga kami menjaga rumah dan mengurus tanaman.

foto ini saya ambil setelah dia membabat rumput. semoga cukup menggambarkan betapa tenang dan tekun dia membersihkan alat pembabat rumput sebelum dia menyimpannya. serpihan-serpihan daun dan gumpalan tanah dia sikat dan aliri air pelan-pelan hingga nyaris tak bersisa.

saya yang sedang duduk tak jauh dari situ tercenung. kapan terakhir kali saya menyaksikan seseorang yang demikian luruh dalam kegiatan yang begitu sederhana?

Continue reading

melepas

beberapa waktu lalu saya berbagi dengan seorang teman luar biasa tentang melepas.
saat itu, topik melepas seperti meletup dalam beragam bentuk dalam hidup. mulai dari wafatnya sahabat lama keluarga, hingga kepergian anggota rumah/keluarga.

segala pikiran dan rasa muncul pada momen pelepasan. sedih, marah, sesal, duka, hangat, memori indah, semua menyeruak hampir bersamaan dan tampak betah. kerap mengguncangkan, bahkan bagi pribadi yang merasa sudah bersiap.

Continue reading

gerak

GERAK

Gerak (fisik) adalah bantuan. Movement is help, kata seorang teman di beshara. Entah apa yang kualami saat itu. Yang pasti, emosi dan pikiran bergejolak, aku bingung mesti melakukan apa.

sarannya ketika itu adalah: ikuti terus kurikulum yang tengah kujalani. teruslah bergerak bersama kegiatan yang telah ditetapkan. biarkan ia membantu kita mengurai kekalutan.

Continue reading

mendoakan

malam itu kami serumah sepakat untuk jajan pizza. pesanlah kami dua kotak pizza dari pusat perbelanjaan terdekat. agar praktis, kami memesan antar menggunakan aplikasi ojol.

sejak awal berinteraksi, si abang ojol sudah menyenangkan. dia tanggap, santun, dan lekas paham. saya ketik, “ok terima kasih” dia jawab “sama-sama kak”. saya beritahu jalan mana yang baiknya dia ambil, dia mengucapkan terima kasih atas infonya. tanpa banyak tanya, pesanan pizza tiba di tangan saya.

lalu saya melihat ada sebungkus coklat tertempel di kardus. awalnya saya pikir bingkisan itu juga dari kedai pizza. namun ketika saya lihat lebih dekat, ternyata ia kejutan dari si abang ojol.

Continue reading

tentang bahagia, senyum, dan tawa

(english translation below)

baru-baru ini, saya kembali membaca coretan lama: “being happy is the most spiritual thing to do.” saya sekarang tidak begitu yakin dengan kata “most”, tetapi sisanya, saya tetap sepakat. ekspresi kebahagiaan itu sejatinya spiritual, i.e., mengakar pada ruh.

pikiran lalu bergulir ke: bahagia adalah ekspresi pujian (kepada tuhan); sebentuk alhamdulillah yang mungkin belum terucap melalui kata-kata. bentuk ini bahkan bisa jadi lebih tulus daripada apa yang terucap.

Continue reading