rahmat (dan) hidayat

beberapa kabar duka membuat saya terdiam lebih lama. seperti ketika tadi menerima kabar bahwa pak rahmat hidayat, paramadina, berpulang.

kalau ada orang yang menghidupkan kata “pengabdian”, bagi saya, pak rahmat-lah orangnya.

sekilas, pak rahmat ‘hanya’ terlihat sebagai orang yang duduk di meja registrasi mushalla paramadina; menyapa pengunjung; menyodorkan daftar hadir; menanggapi cerita, pertanyaan, dan permintaan beraneka rupa.

namun, di balik semua itu, pak rahmat-lah yang mengatur agar paramadina selalu punya kelas yang selaras dengan napas yayasan dan punya murid. dia mengelola semua logistik. dia turut memberi nuansa sehingga orang dari beragam latar bisa nyaman hadir.

pesan whatsapp pak rahmat secara berkala muncul di layar hp, mengabarkan kelas yang akan berlangsung. kalau ada kelas yang menurutnya saya akan suka, dia akan bilang “menurut saya, mbak eva perlu coba deh. kayaknya cocok.”

pak rahmat teman ngobrol yang menyenangkan untuk segala topik random. kadang saya mampir ke paramadina hanya untuk setor muka dan ngobrol dengan dia, sambil makan bakso atau soto.

ketika ada pendapat orang di kelas yang saya kurang (se)paham, saya akan mengadu. santai dia menanggapi, “yah, kalau mbak eva mah udah paham, kan. ‘oh, ternyata ada yang memaknai hal tersebut dari sudut padang itu…’” mendadak saya merasa lebih lapang.

pak rahmat juga yang kadang menyapa saya dengan arti dari nama saya dalam bahasa indonesia. membuat saya terhenyak. mengingatkan saya bahwa nama adalah doa, harapan, dan petunjuk siapa kita.

lalu, beberapa ramadan lalu, dia beserta teman-teman berkeliling membagikan makanan sahur ke penghuni kolong jembatan. beberapa orang mengomentarinya sinis. si bapak terus saja dengan inisiatinya. dia bilang ke saya, “saya hanya berpikir gini, mbak: kalau itu saya, pengalaman hidup seperti apa yang akan bisa membuat saya sampai ‘memilih’ tinggal di kolong jembatan?”

seperti halnya nama dia: rahmat (dan) hidayat ((dari) tuhan). mungkin begitu ketika sosok manusia sudah luruh menjadi abdi sejati, hanya (sifat) Tuhan yang muncul. terejawantahkan sebagai rahmat dan petunjuk (hidayat) bagi diri sendiri, sekitar, dan semesta alam.

tentu kalau dia sampai membaca unggahan ini, dia akan menepis perkataan saya. “ah mbak eva, ada-ada saja. saya mah apaan sih. gini-gini aja.” begitulah pak rahmat hidayat. sederhana, tulus, indah.

selamat melanjutkan perjalanan, pak. terima kasih atas segalanya. sugeng tindak. sugeng sare. dan bisa jadi, sugeng rawuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s