bye-bye, abai

rasa terabaikan sering muncul sebagai pengalaman akhir-akhir ini. sebenarnya, rasa ini bukan hal baru buatku. ia sudah berulang kali berkunjung sejak dulu.

ada kalanya dia berhibernasi. hal itu tergantung dengan siapa aku sedang berpasangan. kebetulan, kali ini, aku mendapat pasangan latih yang tepat. turbulensi emosi pun menggulungku lagi dan lagi. jatuh bangun aku dibuatnya. porak poranda jeroanku, walau, dalam keseharian, aku tetap berfungsi seperti biasa.

syukurlah, aku sekarang paham bahwa ini perkaraku, bukan orang lain. karena itu, aku duduk dengan rasa terabaikanku tanpa menyertakan siapa pun. aku menunggu rasa abai itu bercerita. aku ingin melihat ke mana dia membawaku.

muncul penyadaran dalam benakku.
aku tersadar bahwa selama ini yang mengabaikan adalah aku, bukan pasanganku. akulah yang mengabaikan diriku sendiri. lalu, aku berjanji untuk tak abai lagi. aku akan terus bersama kamu, wahai aku. sehingga kamu tak perlu dan tak pernah lagi merasa terabaikan.

rupanya pula, rasa itu memperjalanku untuk kembali: kembali ke aku; kembali ke tuhan. curigaku, tuhanlah yang menaruh rasa terabaikan dalam sukmaku. dia ingin aku gelisah dan merindu. kesemua ini dia rancang supaya aku, tidak bisa tidak, bergerak mendekat kepadanya.

bye-bye, abai. terima kasih dan salamku. tabik.

bersenang-senanglah!

karya gebbie, juli 2022

satu pesan terkuat (dan favorit!) bulan ini adalah “bersenang-senanglah!”

pesan ini tertulis di lukisan seorang teman multi-talenta @gebbiela – juga dalam syair lagu yang dia gubah dan senandungkan. sekarang, dia (gambarnya, bukan gebbie) menjadi wallpaper hpku. sungguh pengingat yang menyenangkan.

Continue reading

air susu ibu dan cerita kemanusiaan yang dialirinya

penafian: jujur, awalnya, saya tergerak untuk membaca buku karena windy yang menerjemahkannya. (gimana, dong?)

jarang ada buku terjemahan yang bisa membuat saya lupa bahwa dia bukan menggunakan bahasa asal. butuh lebih dari sekadar pemahaman padanan kata dan tata bahasa untuk menerjemahkan. ada rasa bahasa di situ, baik bahasa sumber maupun sasaran; ada kesetiaan kepada niat pengarang, buku, dan para tokohnya. dan buku ini berhasil membuat saya berpikir juga tidak bahwa ini terjemahan. lupa. luruh dalam cerita.

intensi untuk membaca karena “ini terjemahannya windy” juga membuat saya praktis membaca tanpa bekal. saya hanya tahu bahwa buku ini berasal dari latvia dan tentang ibu dan anak.

jadi, ketika pertama membaca, saya seperti diceburkan ke laut dalam yang tengah mengalami badai. apa-apaan, sih, ini buku? baru mulai saja sudah drama begini?

awal-awal, saya masih perlu membolak-balik halaman, mengacu lagi ke ke halaman-halaman pertama. sekadar mengingatkan siapa bicara apa tentang apa. namun, lama-kelamaan, seperti saluran air yang semakin ke hilir semakin lancar dan deras, saya semakin terhanyut mengikuti alur cerita.

pemikiran saya pun bergeser seiring semakin dalam saya membaca. ternyata buku ini bukan sekadar tentang latvia. bukan pula semata tentang hubungan ibu-anak. ini cermin perkara kita sebagai manusia, lintas gender, latar, negara, budaya, atau apa pun.

pasangan ibu dan anak adalah simbol hubungan kuat. kata pasangan dalam “manusia diciptakan berpasang-pasangan” yang dimaknai secara lebih luas: bahwa dalam setiap interaksi keseharian, kita memiliki pasangan (sesederhana: saya menulis, anda membaca).

buku air susu ibu di #obrolanpatjar, juni 2022

saya suka sekali dengan hubungan yang terjalin antara sang ibu dan anak (serta anjing yang terus disebut “anjing” tanpa diberi nama). hubungan mereka terasa jujur dan, kalau boleh dibilang, telanjang. apa adanya. saling cinta, saling memberi, saling menerima. seutuh yang mereka bisa, dengan warna masing-masing. terus bersetia.

ada titik saya berhenti sejenak. teringat ibu. ada juga titik saya berhenti dan terlintas: alangkah indahnya hubungan sejujur ini.

hidup beserta seluruh kejadian dan tokoh dalam buku ini juga menggiring saya untuk tidak melihat mereka sebagai hitam putih. tidak ada penghakiman. mereka membantu saya untuk melihat, itu tadi, perkara manusia. perkara saya juga. kegalauan, kerisauan, kebahagiaan, dan segala rasa dan pikiran yang muncul—itu semua kita kenal. sedih mereka sedih kita juga. ketakutan mereka, kita paham. bahagia mereka adalah sesuatu yang familiar bagi kita.

bahkan latar cerita yang berlokasi jauh di latvia menjadi dekat. situasi yang digambarkan mengingatkan saya pada dua hal. pertama, rumah adalah rumah, dengan keindahan dan kenyamanan yang mungkin tak terpahami orang lain, tetapi membuat kita pulang dan pulang lagi.

boeng hatta dan windy

kedua, kondisi yang dituturkan dalam buku adalah simbol keterkekangan, yang bisa terjadi di mana pun dalam beragam kondisi—eksternal dan internal. fisik dan mental. bagaimana manusia tetap bisa menggeliat dalam keterkekangan. tetap menemukan remah-remah kebahagiaan, kemerdekaan, dan cinta, yang membuat kita (iya, kita) bertahan.

bahwa cerita dituturkan melalui dua kaca pandang menjadikan pengalaman saya tiga dimensi. saya sempat terpikir, alangkah menarik bahwa kita ada dalam satu ruangan, berinteraksi, tetapi punya pengalaman berbeda, dengan peran, pikiran, memori, dan emosi masing-masing. tadinya berpikir seru juga untuk tahu apa yang ada di pikiran pasangan interaksi kita, tetapi, pikir punya pikir, seram juga sih kalau benar tahu.

terima kasih, penerbit spring, sudah ‘menemukan’ cerita ini dan membawanya ke indonesia. terima kasih, windy,
sudah menerjemahkan dengan begitu sungguh-sungguh dan penuh rasa hormat kepada teksnya. terima kasih, nora ikstena, yang telah mengajak menyelam di tengah badai hingga tiba ke mata badai.

but, yeah, i am totally biased. selamat hari minggu, kamu dan semua makhluk semesta.

kalau ada yang berminat membelinya

tentang, ternyata, dan cinta

anak dan ibu itu diam saja di depan tangga jalan yang akan kami naiki. jujur, awalnya terbersit rasa kesal. mungkin karena merasa jalan terhalangi. Mungkin karena ada pikiran buruk tentang egoisme (orang lain).

antrian naik tangga jalan mulai memanjang. “boleh jalan, Bu?” akhirnya saya sapa mereka.

sang Ibu bergumam bahwa anaknya takut. seketika pikiran dan badan saya terasa berbeda. jadi lebih tenang. hilang pikiran buruk itu.

teman saya mengajak anak dan ibu untuk naik tangga bareng. mereka dengan sopan menolak. saya tetap berdiri di belakang mereka. menunggu. tak terpikir untuk melakukan hal lain. saya sudah pada tempat saya.

si anak pada waktunya mau bergerak. kami menapak bersama. saya tetap dua langkah di belakang mereka.

menjelang ujung tangga, anak mulai bersiap untuk kembali melangkah. ibu menuruti gerakan anak. sepanjang perjalanan, Ibu tak henti menggenggam tangan si anak. genggaman kokoh sekaligus lembut.

penuh cinta. cintalah yang membuat Ibu tergerak indah. utuh tanpa ingin melakukan hal lain. cinta pula yang membuat anak aman, percaya, dan tetap melangkah, walau ketakutan melanda.

lepas dari anak tangga, Sang Ibu menoleh, memandang mata saya barang sebentar. tanpa cakap, tetapi banyak yang tersampaikan. saya tak bisa tidak melepas senyum. ikut senang, Bu dan adik.

sepanjang minggu, saya ingin menulis tentang gambar dan kutipan di atas — serta penyadaran yang muncul bersamanya. namun, belum tahu ingin menulis apa — yang rela saya bagi, tepatnya.

peristiwa kemarin memberikan jalan untuk itu. sebuah kisah tentang saling paham dan saling menemani. tentang keterhubungan antar jiwa manusia. tentang kebersamaan yang begitu memerdekakan. tentang rasa aman dan nyaman yang melembutkan dan membuat bertumbuh. tentang berada pada tempat kita—masing-masing tetapi berdampingan. tentang cinta yang menggerakkan dan menetapkan.

tentang kesadaran betapa berharganya mereka yang dihadiahkan Semesta kepada kita sebagai teman seperjalanan – companionship. tentang senyum dan rasa syukur. sebuah tanda paham tanpa kata.

tentang hal-hal indah yang saya saksikan. yang membantu saya menyadari (si)apa saja yang ternyata penting bagi saya. yang ternyata cerminan nilai yang sudah ada dalam diri saya. yang ternyata adalah saya.

tentang, tentang, tentang. ternyata. cinta.

Continue reading

(ter)akhir

hari ini kita banyak bicara tentang (ter)akhir.

seorang teman mengingatkan saya untuk mencermati akhir-akhir. “watch the endings,” katanya. ia tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang ia maksud, dan kenapa itu penting. ia sekadar menyentil, dan bola itu pun bergulir dalam benak saya.

kata “(ter)akhir” menjadikan segala sesuatu lebih dramatis. ini sarapan terakhir kita lho untuk tahun 2021. ini matahari terbenam terakhir kita. ini terakhir kali kita ketemu tahun ini. terakhir kali kita bersepeda. dan seterusnya. padahal, kemarin ya sarapan dan insyaallah besok sarapan lagi. apa signifikansi sarapan pada tanggal 31 desember?

Continue reading

inklusif

bersama mbak ayu, ketua ikatan waria yogyakarta (iwayo)

kemarin diajak mas yan parhas datang ke acara ulang tahun perkumpulan keluarga berencana indonesia cabang yogyakarta, sebuah lsm bidang kesehatan reproduksi.

di sana, saya bertemu banyak kawan hebat. salah satunya adalah mbak ayu, ketua iwayo (ikatan waria yogyakarta).

Continue reading

cukup

sarapan nasi goreng dan teh panas di rumah mertua kakak. selalu menyenangkan.

salah satu ucapan ulang tahun beberapa purnama lalu yang melekat di saya adalah ucapan guru meditasi saya di bali usada. beliau menyampaikan serangkaian doa. salah satunya: semoga dicukupkan rezeki.

kata cukup dalam doa beliau membuat saya terhenyak. bukan berlimpah seperti yang disampaikan kebanyakan orang, tetapi “cukup”.

Continue reading

selamat ulang tahun, taman bacaan pelangi

Pada awal pandemi, saya berbincang dengan nila tentang apa yang perlu kami lakukan sebagai taman bacaan pelangi, sebuah yayasan yang dia dirikan untuk merawat minat baca anak-anak di indonesia timur. seperti halnya semua orang dan organisasi, kami pun terdampak.

banyak “bagaimana kalau …” terlontar selama percakapan. pada akhirnya, kami sepakat untuk kembali ke sikap yang kami terapkan pada masa awal taman bacaan pelangi: jalani saja. bagian yang belum jelas nanti akan terang pada waktu-Nya.

Continue reading